Kamis, 20 April 2017 - 07:47:48 WIB
SINKRONISASI PROGRAM DAN EVALUASI KINERJA ATASE PERTANIAN (5-6 April 2017)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 532 kali

Bandung - Atase Pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perwakilan Diplomatik yang secara struktural berada di bawah Kedutaan Besar Republik Indonesia. Pada saat ini, Kementerian Pertanian memiliki 4 (empat) Atase Pertanian, yaitu di Roma (Italia), Brussel (Belgia), Tokyo (Jepang) dan Washington DC (Amerika). Tujuan penempatan petugas pertanian sebagai Atase di negara-negara tersebut adalah untuk memperlancar kerja sama Bilateral, Multilateral dan Regional serta dengan Organisasi Internasional.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang Atase Pertanian wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, harmonisasi dan sinkronisasi dengan lingkungan Perwakilan Republik Indonesia di negara penugasan dan wilayah observasinya, serta Biro Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian di Jakarta.

Tugas dan fungsi Atase Pertanian yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pertanian Nomor 337/Kpts/OT.140/M/8/2005 adalah:
◦ Meningkatkan Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertanian
◦ Kerjasama Organisasi Internasional
◦ Perluasan Pasar Ekspor Komoditas Pertanian
◦ Perluasan dan peningkatan bantuan teknik dan proyek pertanian
◦ Sidang Internasional, Delegasi dan Tugas Khusus.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada tanggal 5-6 April 2017 bertempat di Hotel Aston Pasteur Bandung telah dilaksanakan kegiatan “Sinkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian”. Kegiatan ini bertujuan mencari terobosan ekspor hasil pertanian ke luar negeri. Peserta yang hadir berjumlah + 100 orang berasal dari perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, eselon satu teknis lingkup Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian Kabupaten Pak-Pak Bharat Provinsi Sumatera Utara serta beberapa Asosiasi komoditi dan pelaku usaha sektor pertanian dari Jawa Barat.

Pertemuan dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Hari Priyono) didampingi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional (Mat Syukur), Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri (Mesah Tarigan) dan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Arief Santosa). Sebagai Narasumber pada pertemuan tersebut adalah; (i) Atase Pertanian Roma (Yusral Tahir), (ii) Atase Pertanian Brussel (Wahida), (iii) Atase Pertanian Tokyo (Dadeng Gunawan), (iv) Atase Pertanian Washington DC (Rindayuni Triavini), (v) Dewan Teh Indonesia (Teguh Kustiono) dan (vi) pemilik Perusahaan Pengolahan Kopi Morning Glory (Nathanael Charis).

Dalam sambutannya, Bapak Sekjen menyampaikan beberapa hal antara lain;
- Atase pertanian harus bisa menjadi problem solver, dengan harapan dapat menjadi perantara untuk pelaku usaha yang mau menjual produk-produk pertaniannya;
- Atase Pertanian harus dapat memikirkan komoditi yang tidak diunggulkan agar dapat menembus pasar ekspor misalnya buah Naga;
- Setiap Attani wajib menguasai standar Sanitary and Phytosanitary (SPS) di negara penugasan dan wilayah observasinya;
- Di akhir sambutannya, Bapak Sekjen menyampaikan agar forum ini dapat mencari format akselerasi ekspor komoditas pertanian.

Dari hasil diskusi dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Pertemuan Sinkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian mempunyai arti yang sangat strategis bagi Kementerian Pertanian kedepan, yaitu untuk mengoptimalkan Peran Atase Pertanian di tengah pergeseran tataran global perdagangan internasional dan regional; pelaksanaaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Pasar Eropa Pasca Brexit, serta perlunya peningkatan ekspor hasil pertanian sejalan dengan program Nawa Cita Pemerintah;
  2. Perlu penambahan Atase Pertanian dan penegasan wilayah observasi dalam mendukung kebijakan Kementerian Pertanian;
  3. Potensi ekspor ke Italia masih kelapa sawit, namun masih terdapat anti palm oil yang cukup ekstrim di Roma;
  4. Uni Eropa (UE) di tahun 2020 melarang penggunaan palm oil. Untuk itu perlu dipikirkan komoditi turunan lain apabila ingin ekspor ke Brussel;
  5. Peluang dan potensi ekspor komoditi pertanian ke Jepang lebih diutamakan produk olahan (produk setengah jadi) yang memenuhi persyaratan standar keamanan pangan Negara tersebut;
  6. Untuk ekspor ke Amerika, peluang komoditas pertanian Indonesia lebih banyak produk-produk perkebunan seperti kopi, untuk kedepan peluang ekspor/pasar ke Amerika adalah produk pangan jadi;

pada tanggal 6 April 2017, dilakukan kunjungan ke Perusahaan Pengolahan Kopi Morning Glory dan kediaman Bupati Bandung (H. Dadang Naser).



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)