Selasa, 27 September 2016 - 12:34:29 WIB
SINKRONISASI DAN EVALUASI PROGRAM ATASE PERTANIAN
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 457 kali

Kementerian Pertanian saat ini memiliki 4 (empat) perwakilan Atase Pertanian (Attani) yaitu di Roma (Italia), Brussel (Belgia), Tokyo (Jepang), dan Washington DC (Amerika). Atase Pertanian sebagai Duta Besar Kementerian Pertanian tidak hanya bertanggung jawab terhadap negara tempat penugasannya saja tapi juga mencakup wilayah observasinya. Banyak hal yang diharapkan dapat dilakukan oleh Attani dalam melaksanakan tugasnya terutama dalam mendukung pengembangan ekspor komoditas Indonesia di pasar luar negeri.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada tanggal 3-4 Agustus 2016 bertempat di Hotel Aston Manado telah dilaksanakan kegiatan “Sinkronisasi dan Evaluasi Program Atase Pertanian”. Kegiatan ini bertujuan mencari terobosan ekspor hasil pertanian ke luar negeri. Peserta yang hadir berjumlah sekitar 100 orang berasal dari: (Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, perwakilan eselon satu teknis lingkup Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sulawesi Utara serta beberapa Asosiasi komoditi dan pelaku usaha sektor pertanian dari beberapa daerah di Indonesia seperti dari Garut, NTB, Gorontalo, dan Sulawesi Utara).

Pertemuan dibuka oleh Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri (Ir. Mesah Tarigan M.Sc.) mewakili Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dan didampingi oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara (Dr. Ricky Toemandoek, MM.) . Sebagai Narasumber dalam pertemuan ini adalah: Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil (PPH) Peternakan, (Ir. Fini Murfiani, MSi); Direktur PPH Perkebunan, (Ir. Dedi Junaedi, M.Sc.); perwakilan Dit. PPH Hortikultura, perwakilan Dit. PPH Tanaman Pangan, perwakilan Direktorat Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi (PKNSI) Kemenkeu dan perwakilan PT. Gunung Intan Permata, Manado (selaku eksportir).

Dari hasil diskusi dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Pertemuan Sinkronisasi dan Evaluasi Program Atase Pertanian mempunyai arti yang sangat strategis bagi Kementerian Pertanian ke depan, yaitu untuk mengoptimalkan Peran Atase Pertanian di tengah pergeseran tataran global perdagangan internasional dan regional; pelaksanaaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Pasar Eropa Pasca Brexit, serta perlunya peningkatan ekspor hasil pertanian sejalan dengan program Nawa Cita Pemerintah.
  2. Beberapa komoditas perkebunan yang memiliki potensi ekspor dari Provinsi Sulut yaitu: kelapa, cengkeh, pala, kopi, kakao, kayu manis, vanili, jambu mete, cassiaverra, lada, dan kemiri.
  3. Potensi ekspor produk peternakan, antara lain: kulit sapi (Hongkong dan Cina), olahan daging ayam (Pakistan dan Timur Tengah), karkas ayam (Timor Leste) dan olahan susu (Malaysia dan Timor Leste). Kontribusi daging unggas meningkat dari 20% thn 1970 menjadi 66% tahun 2015. Negara potensi ekspor produk ayam: Timor Leste, Jepang dan Timur Tengah.
  4. Untuk ekspor ke Jepang, sebagian besar komoditas pertanian Indonesia tidak dapat bersaing di sana, selain karena tidak bisa mengikuti kebijakan pemerintah Jepang, besarnya biaya transportasi dan belum adanya kontinuitas.
  5. Untuk ekspor ke Amerika, peluang komoditas pertanian Indonesia adalah karet dan kopi. Produk turunan kelapa (berlabel kara): coconut water, coconut oil dan aren. Sedangkan potensi ekspor untuk komoditas peternakan: mentega, margarin dan kulit.
  6. Di Italia, prioritas sektor peternakan lebih ke arah pengembangan susu kerbau/mozzarella. Untuk promosi kopi dapat dilakukan melalui Trieste Expo setiap 2 tahun sekali (tanggal 20-22 Oktober 2016). Untuk itu harus ada produk yang siap untuk dijual termasuk untuk kopi organik.
  7. Untuk Eropa, pelaku usahanya berminat melakukan investasi di bidang pertanian di Indonesia. Untuk itu diminta adanya perhatian lebih pada proses penanganan pasca panen dan pengolahannya di tingkat petani. Sebagai contoh para pelaku usaha Pasar Kopi di Eropa tertarik pada pembuatan kopi langsung di petani khususnya Specialty Coffee.
  8. Pada hari kedua (4 Agustus 2016), para peserta mengikuti kunjungan ke perusahaan eksportir rempah-rempah PT Gunung Intan Permata (PT GIP) yang terletak di kota Manado. Dari hasil diskusi, diketahui bahwa kendala yang dihadapi PT GIP adalah terkait penyakit Aflatoksin pada komoditas Pala yang di ekspor ke Eropa.

 



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)