Jumat, 06 Februari 2015 - 10:40:43 WIB
Sinkronisasi Pengembangan Phase II Rice-Fish Farming System
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 4554 kali

Jakarta – telah berlangsung pertemuan ”Consultative Meeting on Regional Rice Initiatives Phase II and Integrated Economic Zone Development Based on Blue Economy” yang berlangsung pada tanggal 3 Februari 2015, Sofyan Betawi Hotel, Jl. Cut Mutia No.9, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuan dilaksanakannya pertemuan ini adalah untuk mengsinkronisasi perumusan dari pengembangan Phase II tentang Rice-Fish Farming System sebagai tindak lanjut kegiatan Regional Rice Initiative pahse I.

Pokok-pokok hasil pertemuan yaitu :
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), Jakarta. Bertindak sebagai narasumber yaitu Mr. Miao Weimin, Technical Aquaculture Officer at FAO-RAP dan Bapak. Ageng Setiawan Herianto dari Kantor Perwakilan FAO, Jakarta sebagai moderator yang dihadiri dari perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Perikanan dan Kelautan dan Bappenasserta LSM dari FIELD dan VECO

Pada kesempatan pertemuan ini, Mr. Miao Weimin, Technical Aquaculture Officer at FAO-RAP mempresentasikan maksud dan tujuan dari rencana RRI phase II activity particularly on Rice-Fish Farming System yang menjelaskan bahwa pengembangan tersebut adalah tindaklanjut dari RRI phase I – Implemented in 2013 yang memiliki 4 (empat) komponen kinerja untuk :

  1. memperkenalkan pentingnya keaneka ragaman hayati dalam sistem pengairan pada lahan padi, mendukung pendekatan pengelolaan sumberdaya air/irigasi terpadu (MASSCOTE),  
  2. Mendukung keanekaragaman hayati, tata ruang lahan dan ekosistem termasuk tanaman diluar hutan
  3. Mendukung intensifikasi berkelanjutan dari sistem pertanian padi,
  4. Mendukung adaptasi dari perubahan iklim dan memperkenalkan tentang budaya padi.


Dengan melihat bahwa Indonesia memiliki produksi beras yang cukup besar maka Target pengembangan dari tahap I ke tahap II ini diharapkan dapat dilakukan dengan tujuan peningkatan perekonomian petani melalui pemanfaatan lahan. Dari rumusan yang disampaikan, untuk mengimplementasikan Rice-Fish Farming System perlu adanya dukungan pemerintah dalam pengelolaan dan pembinaan kepada petani.

Pada MoU antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor : 12/DPB/KKP/KB/III/2013 tentang Kerjasama Pengeloaan Mina Padi. Ruang lingkup Kesepakatan Bersama ini meliputi kerjasama perekayasaan, pelatihan, sosialisasi, fasilitasi, pertukaran data dan informasi serta percepatan implementasi Gerakan Sejuta Hektar Mina Padi (GENTANADI) sampai dengan Tahun 2015 dalam rangka pengelolaan mina padi di sektor perikanan dan sektor pertanian.

Dari hasil konsultasi pertemuan tersebut, permintaan dari KKP untuk membuat pilot project Mina Padi kepada Ditjen Tanaman Pangan, Kementan akan ditindak lanjuti untuk dikonsultasikan kepada pimpinan dengan mengacu kepada perjanjian yang telah disepakati. Untuk memperkuat koordinasi tersebut maka kedua instansi akan memperbaharui perjanjian pada tingkat Menteri.

Pemaparan dari LSM FIELD yang di presentasikan oleh Bapak Widyastama Cahyana, Executive Director, Field Indonesia dan Bapak Nana Suhartana dari VECO-Indonesia menekankan bahwa pilot project  yang di lakukan oleh FIELD dan VECO dapat berjalan dengan baik. Pengembangan teknologi yang berbasis SAVE end GROW Concept oleh para petani masih di maknai sebagai tindak penyelamatan  pengembangan pertanian dari dampak perubahan iklim dan berusaha mendorong peningkatan produksi pertanian dengan berdasarkan pengalaman dan dukungan informasi teknologi yang dibutuhkan.



Lokasi kegiatan Pilot Project yang diselenggarakan oleh LSM (FIELD) pada tahun 2013 – 2014 ini dilaksanakan dibeberapa daerah, yaitu:



Dari hasil pengamatan yang dilakukan, banyak keuntungan yang didapat dari penerapan SAVE end GROW. Menurut data dari kegiatan lapangan di daerah Lemah Ayu, kecamatan Kertasemaya menunjukkan bahwa nilai produktifitas dari hasil panen padi sangat memuaskan dengan biaya produksi yang relatif lebih hemat dibandingkan dengan penerapan tanam konvensional. Sedangkan untuk daerah yang lainnya nilai produksi beras juga cukup memuaskan dengan melihat nilai biaya produksi yang lebih hemat dibandingkan dengan metode konvensional. Lahan organik dengan sistem pengairan yang baik (aquatic) ternyata membuat ketertarikan bagi binatang liar untuk tinggal dan hidup didalam lahan pertanian tersebut. Karena terdapat mata rantai makanan yang mereka butuhkan untuk hidup.

Setelah melakukan pengamatan aquatic ditemukan berbagai jenis binatang diantaranya, ikan sepat, ikan lele, ikan betutu, belut, kecebong dan berbagai jenis serangga.

Beberapa hal yang akan dibahas lebih lanjut adalah :

  1. Hasil Penelaahan dasar hukum kerjasama antara Ditjen Tanaman Pangan dengan Ditjen Perikanan Budidaya
  2. Pemetaan ketersediaan lahan yang akan menjadi pilot project Mina Padi yang masih harus dikoordinasikan oleh Ditjen Tanaman Pangan
  3. Pengembangan rumusan lanjutan dari FAO terkait sistem Mina Padi
  4. Trobosan dari KKP terkai tnilai produktivitas lahan Mina Padi sampai dengan akses pemasarannya
  5. Pembaharuan MoU dari tingaka tes I ketingkat Menteri


Perlu disampaikan bahwa pengembangan sistem Mina Padi ini akan terlaksana apabila instansi tekait dalam hal ini Kemtan dan KKP menyetujui dan mendukung kegiatan tersebut, melihat MoU yang akan segera berakhir di tahun 2015.



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)