Selasa, 18 November 2014 - 17:46:14 WIB
Atase Pertanian RI di Luar Negeri Menjadi Tolak Ukur Kemajuan Pertanian Indonesia di Mata Dunia
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 6172 kali

Bali – Telah berlangsung pertemuan Sinkronisasi program Atase Pertanian bertempat di Grand Inna Kuta Hotel - Bali yang diselenggarakan oleh Pusat Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pejabat lingkup eselon I (satu) Kementerian Pertanian dan dibuka oleh I Putu Sumantra, Kepala dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bali yang didampingi oleh Mesah Tarigan, Kepala Pusat Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal. Bertindak sebagai narasumber adalah Catur Sugianto, atase pertanian pada KBRI di Brussel, Hamim, Atase Pertanian pada KBRI Roma, Achmad Rachman, Mantan Atase Pertanian pada KBRI Washington DC dan Arman Wijanarko, Mantan Atase Pertanian pada KBRI Tokyo. Acara ini bertujuan untuk memberikan pembekalan terhadap calon atani yang akan menduduki posisi atani yang telah habis masa tugasnya sehingga target yang belum tercapai dapat dilanjutkan oleh atase pertanian berikutnya.

Kepala Pusat Kerja sama Luar Negeri menyampaikan arahan dari Bapak Sekjen terkait penugasan dari masing-masing Atase Pertanian, agar lebih mencermati perkembangan dan kebijakan pasar diwilayah eropa dimana trobosan-trobosan baru untuk meningkatkan nilai eksport produk pertanian Indonesia ke eropa dapat dicapai.

Dalam paparannya, narasumber dari atani Brussel yang dimoderatori oleh calon atani Tokyo Dadeng Gunawan menjelaskan bahwa kebutuhan UE terhadap produk pertanian seperti kakao, kopi, kopra, kayu manis, pala, cengkeh, vanilla, nanas dan kelapa sawit sangat mereka butuhkan, namun seleksi yang dilakukan oleh Pemerintah UE untuk kebijakan impor sangat ketat, 90% impor yang masuk adalah produk makanan, oleh karena itu UE memiliki standar produk makanan yang tinggi (no antibiotic in food and no toxins in food). Dilema untuk produk kelapa sawit juga sangat dirasakan, pada sektor ini Indonesia mendapatkan protes dari anggota LSM di EU mereka melakukan black campaign terhadap produk kelapa sawit Indonesia yang menyebarkan isu bahwa lahan pertanian kelapa sawit di Indonesia telah merusak habitat dari kelangsungan hidup orang utan.

Pada produk peternakan, UE menerapkan standar sosial untuk perlakuan hewan seperti sapi atau kerbau, ternak ini tidak boleh diikat, lahan yang diperlukan untuk sapi atau kerbau haruslah layak bagi perkembangan ternak itu sendiri dimana dari total luas lahan dibuatkan parit agar hewan ternak tersebut tidak lepas dari area peternakan. Sama halnya dengan produk ternak ayam, ternak ini tidak boleh dikurung dalam suatu tempat yang sempit, harus diberikan kebebasan ruang yang cukup dan selalu terjaga akan kebersihannya.

Saat ini Indonesia masuk dalam urutan kesepuluh menjadi negara pengimpor untuk wilayah EU dan diharapkan sepuluh tahun kedepan nilai impor produk pertanian Indonesia dapat lebih meningkat menjadi peringkat kelima untuk wilayah EU.

Kemudian kepada atase Pertanian pada KBRI Washington DC, besar harapan dari pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian agar dapat lebih mendalami dan menjajaki kebijakan dari Pemerintah Amerika Serikat karena selama ini produk ekspor pertanian Indonesia banyak mendapatkan tekanan. 

Narasumber dari mantan atani pada KBRI Washington DC Bapak Acmad Rachman dan Mantan Atase pertanian pada KBRI Jepang yang dimoderatori oleh calon atani Roma, Bapak Yusral Tahir menjelaskan bahwa kondisi pangsa pasar di wilayah Amerika Serikat sangat ketat, diantara masalah yang timbul yaitu pihak swasta Amerika Serikat sangat antusias untuk membuat pergudangan di Indonesia, namun demikian terdapat negosiasi yang cukup memberatkan pemerintah Indonesia dalam hal ini pihak Indonesia harus membeli beberapa produk dari Amerika Serikat.

Didalam presentasinya, mantan atani Jepang menjelaskan bahwa telah terdapat banyak investor dari Jepang yang menanamkan modalnya di Indonesia, diantaranya adalah investasi di bidang angkutan dan transportasi di Jawa Barat, logam dasar, mesin, elektronik di Jawa Timur, tekstil di DKI Jakarta dan kertas di Banten sedangkan impor produk pertanian Indonesia yang masuk ke Jepang yaitu berupa produk perkebunan seperti karet, kelapa sawit, coklat, kopi dan rempah-rempah. Sampai dengan tahun 2014 nilai ekspor produk pertanian Indonesia mengalami peningkatan.

Untuk pemasaran hasil pertanian, mungkin arah kedepan produk ekspor pertanian dapat dipertimbangkan yaitu berupa produk olahan (kemasan) sehingga resiko yang dihadapi dapat diminimalisir karena pada produk ekspor pertanian segar, banyak ditemui kendala khususnya tentang ketentuan ijin masuk produk yang akan di ekspor ke negera penerima.

Pada sesi terakhir, narasumber dari atani Roma yang di moderatori oleh Ibu. Rindayuni, calon atani pada KBRI di Wahington DC memaparkan terkait adanya peningkatan produk ekspor pertanian dalam kurun waktu 3 tahun terakhir pada komoditi kelapa sawit, kopi, tembakau, kakao dan produk pasta. Sedangkan penurunan nilai ekspor terjadi pada produk karet, kapas, minyak atsiri, pala, produk anyaman dan serat kayu. Sekitar 90 produk pertanian yang telah berhasil masuk ke Italia dan diharapkan dapat dipertahankan. Untuk komoditas kopi, kakao dan kopra masih menjadi perhatian khusus dalam segi kualitas mengingat standar kebijakan italia sangat ketat. Perlu diadakannya sosialisasi melalui ajang pameran maupun kegiatan temu bisnis yang mampu mendongrak pemasaran komoditi tersebut.

Selain itu, potensi Kerjasama dibidang riset (penelitian) yang sedang berlangsung yaitu pegembangan kerbau perah dan produk turunannya (Mozzareala, keju dan daging kerbau olahan), pengembangan jeruk dan Pengembangan buah subtropik lainnya (table fruit grafe, straw berry dll) serta Pengembangan biodiesel (extraction technology handling and processing) dimana kesemuanya itu harus mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah Indonesia untuk mendapatkan kepercayaan dari pangsa pasar internasional.

Peran aktif dari atani Roma pada organisasi internasional yaitu :

  1. Indonesia sebagai anggota FAO Council (Sampai Juni 2014)
  2. Indonesia sebagai anggota Komite FAO
  3. Indonesia sebagai anggota Executive board IFAD
  4. Peningkatan Kerjasama bilateral dengan FAO (Partnership and Liaison Office)
  5. Mendorong masukannya Indonesia ke lambaga2 PBB
  6. Meningkatan Kerjasama tripartite dalam hubungan selatan-selatan

Hasil yang dicapai dari negosiasi di forum IFAD yaitu Indonesia telah berhasil menjadi chair governing body IFAD 2012 – 2015.

Hadir pula sebagai narasumber Bapak Firmanudin, Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian yang menjelaskan pentingnya akutansibilitas dari para atani selaku KPA yang merangkap sebagai KPB di masing-masing wilayahnya untuk lebih mencermati, menata dan memberikan laporan keuangan yang digunakan untuk keperluan peningkatan kerjasama internasional. Dengan memberikan laporan keuangan tersebut, menjadi salah satu cerminan dari kinerja para atase dalam menyerap anggaran dengan hasil kegiatan yang maximal.

Kepala pusat Kerja Sama Luar Negeri menekankan pada sesi penutupan agar para atase dan calon atase pertanian tidak membuat program yang diluar dari program kerjanya. Jalankan tugas sesuai dengan kewajiban sambil mencermati peluang-peluang yang dapat dikembangkan.

Respon dari dinas pertanian bali menyambut hangat atas penyelenggaraan pertemuan Sinkronisasi Program Atase Pertanian ini. Acara ini sangat bermanfaat untuk menjembatani peluang-peluang pasar dan mempromoikan produk olahan hasil pertanian yang ada didaerah. 

 

Sumber : Pusat KLN (DQ/INA)



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)