Kamis, 07 November 2013 - 12:05:57 WIB
Para Menteri Pertanian ASEAN dan ASEAN+3 Menyepakati Kerjasama Mengatasi Dampak perubahan Iklim
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 2300 kali

Pertemuan tingkat Menteri Pertanian & Kehutanan ASEAN (AMAF) ke-31 dan AMAF+3 (plus China, Japan dan Korea) ke-9 telah berlangsung tanggal 10-11 Nopember 2009 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Berhasil menyetujui peningkatan kerjasama pada 2 area yaitu: Kerjasama Regional untuk ketahanan pangan, dan kerjasama untuk mengatasi dampak perubahan iklim global. 


Kedua agenda pokok tersebut merupakan cerminan tindak lanjut dari kesepakatan para pemimpin ASEAN (ASEAN Summit) yang telah berlangsung akhir Oktober 2009 di Hua Hin, Thailand.

Kerjasama ketahanan pangan regional ASEAN Plus Three ditandai dengan disetujuinya membentuk ASEAN Plus Three Energy Rice Reserve (APTERR) berupa lembaga permanent untuk mengatasi masalah pangan dalam keadaan darurat (bencana).  APTERR berasal dari pilot proyek EAERR ASEAN+3 (East Asia Emergency Rice Reserve) yang dibiayai Jepang dan China.  Namun demikian diperlukan pembahasan yang lebih rinci oleh masing-masing Negara guna merealisasikan APTERR tersebut yang akan dilakukan dalam jangka 1 tahun ke depan.  Selain dari itu, untuk memperkuat ketahanan intra ASEAN, para Menteri juga mengesahkan AIFS Policy beserta dan Framework ASEAN Food Security yang akan menjadi panduan kerja di masing-masing Negara anggota.

 

Untuk mengatasi dampak perubahan iklim dibidang pertanian dan kehutanan, para Meteri juga mengesahkan kerangka kerjasama ASEAN Multi sectoral framework on Climate Change: Agriculture and Forestry toward Food Security.  Para Menteri memposisikannya sebagai kerangka kerjasama yang strategis dan memerlukan penanganan yang berkesinambungan dan terintegrasi dengan sektor lain.  Untuk hal tersebut Indonesia telah mengusulkan dibentuknya Regional Centre for Adaptation and Mitigation of the Impact of Climate Change in Agriculture and Forestry, serta menyampaikan kesediaan sebagai tuan rumah senter tersebut.

Para Menteri juga mengesahkan enam dokumen yang terkait dengan harmonisasi standard dan criteria produk pertanian dan kehutanan, juga batas maksimum residu pestisida untuk lima jenis pestisida dan standar criteria ASEAN untuk akreditasi unit pengolahan susu.  Dalam rangka meningkatkan kerjasama promosi pertanian dan kehutanan serta memperkuat posisi tawar ASEAN, para Menteri telah menandatangani MOU ASEAN Cooperation in agriculture and forest products promotion scheme, yang berlaku selama 5 tahun (2010-2014).

 

Para Menteri Pertanian dan kehutanan ASEAN juga menyetujui beberapa kegiatan yang akan dikerjasamakan dengan plus three terutama yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan kelembagaan baik untuk menunjang keamanan pangan, maupun yang berkaitan dengan bioenergy.  Dibidang ketahan pangan pelatihan akan difokuskan pada system informasi kerawanan pangan, dan perencanaan keamanan pangan, sedangkan yang terkait dengan bio energi pelatihan akan difokuskan pada pemanfaatan biomas sebagai energy.

 

Brunei Darussalam meminta Indonesia dapat membatu pengolahan lahan gambut menjadi lahan padi dan PHT

Disela-sela Pertemuan tingkat Menteri Pertanian & Kehutanan ASEAN (AMAF) ke-31 dan AMAF+3 (plus China, Japan dan Korea) ke-9 yang berlangsung tanggal 10-11 Nopember 2009 di Bandar Seri Begawan, Menteri Pertanian Indonesia telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri industry and primary Resource Brunei Darussalam. H.E. Pehin Dato Yahya.  Dalam pertemuan tersebut Brunei Darussalam meminta agar Indonesia dapat membantu dibidang pengendalian hama terpadu (PHT), serta pengolahan lahan gambut menjadi lahan pangan.  Disampaikan bahwa Brunei menargetkan agar tahun 2010 dapat memenuhi 20% pangan nasionalnya dan pada tahun 2015 dapat memenuhi 60% dari kebutuhan pangan nasionalnya.

 

Menteri Pertanian Suswono menyampaikan kesediaan Indonesia menindak lanjuti permintaan tersebut terutama dengan mengirim tenaga ahli yang sesuai serta merancang kegiatan atau pelatihan yang diperlukan.  Menteri Pertanian Suswono juga mengundang investor Bunei Darussalam untuk usaha patungan dalam bidang peternakan (kambing dan domba, ayam) untuk meraih permintaan pasar timur tengah.  Kerjasama kedua pihak akan diperkuat dengan MOU yang diharapkan dapat ditandatangani pada kunjungan Menteri Perindustrian dan Sumberdaya Utama Brunei ke Indonesia nanti.


Menteri Pertanian menyerahkan Bantuan Alat Mesin Pertanian ke Myanmar dan Cambodia

Menteri Pertanian RI juga menyerahkan Bantuan Alat Mesin Pertanian ke Myanmar dan Cambodia yang dilakukan secara simbolik. Penyerahan ke Myanmar disampaikan langsung kepada Menteri Pertanian dan Irigasi Myanmar, H.E. Major General Htay  Oo, sedangkan untuk Cambodia disampaikan langsung kepada Menteri Luar Negeri Cambodia, HE. Chan Tong Yves.

 

Penyerahan bantuan tersebut sebagai wujud komitment Indonesia dalam mengurangi perbedaan pembangunan (development gap) dengan CLMV, dan juga sebagai wujud kerjasam kedua Negara.  Keada myanmar diseahkan 10 unit mesin penggiling padi, sedangkan ke Cambodia berupa 15 unit traktor tangan, 15 unit poweer thresher dan 2 unit mesin penggiling padi.  Seluruh bantuan Indonesia tersebut akan tiba di masing-masing negara pada akhir Nopember 2009.

 

Sumber : Biro KLN



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)